BULLETIN PART 1 DEMA FIT 2022












1. ESSAY
Tradisi Nyadran Memperkuat Toleransi dan Kerukunan
Oleh : Tsurayya Malahayati

Pendahuluan

    Indonesia merupakan negara yang memiliki ciri khas keberagaman. Keberagaman ini adalah identitas negara indonesia yang harus dipertahankan dan dilestatrikan. Di dalam keberagaman memuat ilmu pengetahum, kesenian, nilai moral, kepercayaan, adat istiadat, dan kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat di suatu daerah. Keberagaman di Indonesia dalam setiap daerahnya memiliki ciri khas, karakteristik yang berbeda-beda. Adanya perbedaan karakteristik keberagaman di suatu daerah ini juga menimbulkan keberagaman kebudayaan, adat istiadat maupun kebiasaan masyarakat dari suatu daerah. Ciri khas atau karakteristik dari kebudayaan, adat, dan kebiasaan masyarakat ini dapat menjadi identitas di daerah tersebut atau modernnya dapat kita sebut sebagai kearifan lokal. Mudahnya, kearifan lokal dapat dijadikan sebagai identitas daerah dan bukti keberagaman di Indonesia.

Isi

    Kearifan lokal yang terdapat dalam kelompok masyarakat di Indonesia banyak mengandung nilai luhur budaya bangsa yang masih kuat dan menjadi identitas warga masyarakat setempat. Kearifan lokal dapat diartikan sebagai nilai yang dibuat, dijalankan, dikembangkan, dan dilestarikan oleh masyarakat yang akan dijadikan pedoman hidup (Apriyanto, 2008). Contoh kearifan lokal di masyarakat diantaranya: awig awig (Bali), Budaya Cingcowong (Jawa Barat), hutan larangan adat (Riau), Lompat Batu Nias (Sumatera Utara), Tradisi Nyadran (Jawa Tengah), dan sebagainya (Dwi Mulyono, 2013).   

  Toleransi mempunyai makna yakni sikap menghargai dan menghormati perbedaan antarsesama manusia. Keberadaan kearifan lokal yang berupa tradisi untuk mempererat rasa toleransi antar beragama, antar masyarakat. Namun, tak jarang juga tradisi tradisi ini juga memperenggang toleransi bagi masyarakat. 

    Kearifan lokal dan toleransi adalah dua hal yang berbeda, akan tetapi jika kedua hal tersebut dipadukan akan menjadi hal besar untuk keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara, selain itu kearifan lokal dan toleransi juga dapat membentuk identitas suatu wilayah dalam cakupan kecil dan identitas negara dalam cakupan besar. Salah satu kearifan lokal yang berbentuk tradisi yang difungsikan untuk menjaga toleransi antar umat beragama adalah tradisi nyadran atau sadranan.

    Sadranan atau nyadran, menurut Slamet Muljana dalam Muhammad Solikhin (2010: 253) berasal dari bahasa kawi Craddha (srada), yang kemudian dijawakan modern nyadran (nydran). Dalam berita karya Kanakamuni atau Mpu Prapanca, Nagara Kertagama pupuh 63- 67, upacara srada pernah diadakan oleh Prabu Hayam Wuruk untuk memperingati wafatnya Rajapatni. Tujuan upacara nyadran ini yaitu meruwat arwah agar sempurna dihadapan Tuhan. Dalam pelaksanaan tradisi nyadran ada beberapa ubo rampe yang harus dipersiapkan seperti kembang setaman, nasi tumpeng yang dilengkapi lauk pauk (sambal goreng, srundeng,rempeyek, ketimun, ayam ingkung, dsb). Ubo rampe ini digunakan untuk sesajen arwah leluhur.

    Tradisi nyandran juga diakulturasikan dengan agama Islam. Dalam pelaksanaan tradisi nyadran ini tentunya juga disesuaikan dengan ajaran agama Islam. Tradisi nyadran dalam islam diawali dengan pembersihan makam dan lingkungan setempat kemudian membaca Surat Yasin, tahlilan, serta mengirim dia untuk leluhur desa yang telah meninggal. Kegiatan doa bersama ini dipimpin oleh ustad atau sesepuh desa. Kegiatan doa bersama selesai dilanjutkan dengan makan bersama.

    Dalam pelaksanaan tradisi nyadran sudah pasti ada masyarakat yang pro dan kontra, tak jarang hal ini membuat perpecahan antar masyarakat dengan adu argumen mempertahankan dan berusaha memenangkan argumen baik dari yang pro maupun kontra dengan tradisi nyadran. Namun perdebatan ini tidak terjadi di desa Getas, Kabupaten Temanggung. Dilansir dari website kemenag.go.id tradisi nyadran di desa Getas ini memperkuat hubungan masyarakat dari kalangan agama Islam, Budha, dan Kristen. Mudahnya, tradisi nyadran di Desa Getas merupakan sarana untuk mengikat tali persaudaraan masyarakat dan menamankan serta mengajarkan pentingnya jiwa toleransi antar umat beragama kepada kaum muda.

    Tradisi nyadran di desa Getas digelar dua dusun. Dusun Krecek yang mayoritas beragama Buddha, dan Dusun Gletuk yang mayoritas beragama muslim. Ada juga beberapa warga yang beragama Kristen. Adaya perbedaan keyakinan ini tidak lantas menyurutkan semangat dan jiwa tolerasi dalam melaksanakan tradisi nyadran. Pelaksanaan tradisi nyadran di desa Getas dilaksanakan setiap Jumat Pon pada bulan Rajab atau Sya’ban. Dimulai dengan kegiatan pembersihan makam dan lingkungan desa, kemudian doa dengan agama Islam dan dilanjutkan dengan doa agama Budha. Setelah kegiatan doa selesai dilanjutkan dengan kegiatan makan bersama. Dalam kegiatan ini di ikuti oleh masyarakat dari berbagai kalangan tidak memandang usia, ras, agama, dan golongan. Pelaksanaan tradisi nyadran di Desa Getas ini ditujukan untuk menggaungkan toleransi dan memberikan pemahaman mengenai esensi tradisi nyadran kepada kaum muda.

Kesimpulan dan Saran 

    Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa tradisi nyadran dapat digunakan sebagai sarana untuk membangun suasana masyarakat yang rukun, toleran, sekaligus merawat budaya dan kearifan lokal. Tradisi nyadran adalah bukti bahwa kearifan lokal yang menyatukan masyarakat dengan berbagai perbedaan latar belakang dan dapat hidup rukun serta toleran. Hanya saja di beberapa daerah di Indonesia perlu lebih disosialisasikan mengenai esensi atau hakikat dari pelaksanaan tradisi nyadran ini agar tidak menimbulkan kesalahpahaman sehingga menyebabkan masyarakat terpecah belah. Selain diadakannya sosialisasi tersebut pemimpin desa atau orang yang dihormati di kawasan tersebut seperti kepala desa, tokoh agama memberikan himbauan bahwa tidak ada paksaan untuk melaksanakan tradisi nyadran dan harus saling menghormati serta memiliki sikap toleransi antara warga yang melaksanakan tradisi nyadran dengan warga yang tidak melaksanakan tradisi nyadran. Dengan adanya sosialisasi pelaksanaan nyadran dapat berkembang serta bertahan sebagaimana mestinya dan dengan adanya himbauan dari orang yang disegani di daerah tersebut akan tercipta masyarakat yang rukun, damai, dan memiliki jiwa toleransi yang tinggi.  


2. ARTIKEL

MEMBANGUN KEARIFAN LOKAL DENGAN TOLERANSI BERAGAMA 

Oleh: Enggal Bagas Nova Saputra

Indonesia merupakan negara kesatuan yang terdiri dari beribu-ribu pulau. Lantas, apa dampak dari banyaknya pulau yang ada di Indonesia? Pastinya dengan banyaknya pulau maka terdapat banyak pula keberagaman, baik itu berupa suku, agama, kepercayaan, etnis, ras, kebudayaan, kesenian, dan adat istiadat. Oleh karena itu, bangsa kita dikenal dengan keberagamannya yang begitu banyak dan besar. Seperti halnya yang dikatakan oleh Bapak Proklamator Ir. Soekarno, bahwa bangsa kita merupakan bangsa yang besar dan disegani dunia. Maka para pendiri bangsa kita merancang dan menetapkan dasar negara yaitu Pancasila dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai alat pemersatu bangsa yang memberikan makna bahwa meskipun kita hidup di tengah perbedaan, namun kita tetap satu yaitu bangsa Indonesia. Lalu, bagaimana kita sebagai warga negara yang baik khususnya mahasiswa menyikapi perbedaan-perbedaan yang ada?

Tepat sekali, satu kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan di atas adalah “toleransi”. Toleransi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti sifat atay sikap toleran. Apa yang dimaksud dengan sikap toleran? Toleran dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memliki arti bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Maka dapat dikatakan juga bahwa pengertian toleransi secara sederhana yaitu sikap tenggang rasa dan saling menghargai terhadap perbedaan yang ada. Dengan menjunjung tinggi sikap toleransi akan menciptakan kerukunan dan keharmonisan hidup meskipun berada di tengah perbedaan. 

Keberagaman Agama di Indonesia dan Toleransi Antar Umat Beragama

Sebagai masyarakat yang baik, khususnya kita sebagai mahasiswa tentunya mengetahui bahwa negara Indonesia mengakui adanya enam agama secara resmi dan sudah diatur di dalam TAP MPR Nomor 1 Tahun 1965 serta UU Nomor 5 Tahun 1969. Berdasarkan informasi terbaru dikutip dari website ruangguru, enam agama tersebut antara lain Islam (87,2%), Kristen (6,9%), Katolik (2,9%), Hindu (1,7%), Budha (0,7%), dan Konghucu (0,05%). Pemerintah memberikan kebebasan kepada setiap warga negara untuk memilih dan memeluk agama sesuai dengan hati nurani masing-masing tanpa adanya paksaan, sebagaimana telah diatur dalam UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 28 ayat (1) dan (2). Tentunya dalam mewujudkan kerukunan antar umat beragama pasti terdapat tantangan yang tidak jarang mengancam persatuan antar umat beragama.

Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia saat ini tengah menyuarakan dan mensosialisasikan moderasi beragama untuk mengantisipasi adanya upaya yang menyebabkan persatuan antar umat beragama terancam. Moderasi beragama memiliki arti yang mirip dengan toleransi, namun moderasi beragama lebih menekankan kepada sikap moderat (tidak fanatik dan tidak ekstreme). Moderasi beragama dan sikap toleransi tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena keduanya merupakan akar terwujudnya kerukunan dan keharmonisan antar umat beragama. Sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, kita diberi anugerah akal budi yang sudah sepatutnya digunakan untuk berpikir bagaimana upaya agar persatuan dan kesatuan tetap terjaga serta bagaimana kita bersikap bijaksana dalam menghadapi perbedaan.

Upaya Membangun Kearifan Lokal dengan Toleransi Beragama 

Apa yang dimaksud dengan kearifan lokal? Mengutip dari jurnal Universitas Muhammadiyah Malang menyebutkan bahwa menurut Wibowo (2015: 17) kearifan lokal adalah identitas atau kepribadian budaya sebuah bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap, bahkan mengolah kebudayaan yang berasal dari bangsa lain menjadi watak dan kemampuan sendiri. Melansir tanggapan dari salah seorang ahli bernama Apriyanto dalam situs Kelas Pintar (partner Kemendikbud dalam hal edukasi digitial) menyebutkan bahwa kearifan lokal adalah berbagai nilai yang diciptakan, dikembangkan, dan dipertahankan oleh masyarakat yang menjadi pedoman hidup mereka. Sedangkan menurut sebuah jurnal yang dikutip dari Universitas Muhammadiyah Palembang yang berjudul Wisdom of The Locality, menyatakan bahwa kearifan lokal dapat dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan akal pikirannya dalam bertindak atau bersikap sebagai hasil penilaian terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi. Maka dapat disimpulkan bahwa kearifan lokal dalam konteks toleransi beragama merupakan sebuah upaya pendayagunaan akal dalam melahirkan nilai-nilai luhur dengan tujuan agar dapat bersikap bijaksana menyikapi tantangan dalam kehidupan beragama sesuai dengan lingkungan hidup masyarakat. Nah, kurang lebih seperti itulah pemahaman mengenai kearifan lokal. Lalu, bagaimana upaya membangun kearifan lokal/kebijaksanaan dengan toleransi beragama? 

1. Memahami Agama yang Dianut dengan Benar 

Langkah pertama yang harus dilakukan oleh umat beragama yaitu memahami dengan benar agamanya. Pemahaman yang benar dapat dilakukan dengan mengkaji secara mendalam ilmu agama yang dianutnya melalui guru, kyai, pendeta, maupun rohaniawan lain dengan cara mendengarkan nasihat dari mereka. Karena pada dasarnya setiap agama mengajarkan kebaikan dan menolak kejahatan, mengajarkan kasih sayang dan cinta, serta menginginkan kedamaian. Setelah memperoleh pemahaman agama yang benar dan lurus, maka akan terbentuk karakter seseorang yang patuh dan taat terhadap Tuhannya dan tidak akan berbuat keburukan. Buah hasil dari pemahaman yang lurus akan melahirkan sikap diantaranya:

-Tidak akan bersikap ekstreme dan fanatik terhadap suatu kelompok ataupun suatu paham pemikiran yang bersifat sempit, karena sebagai umat beragama yang baik pasti akan menghargai sebuah perbedaan baik itu perbedaan pemikiran dan pandangan. 

-Tidak mudah mencaci dan menghina umat beragama lain, karena setiap ritual ibadah yang dikakukan setiap umat beragama memiliki cara masing-masing sesuai dengan kepercayaan yang dianut. 

-Manusia yang memiliki pemahaman yang benar akan cenderung memberi kebebasan menjalankan ritual ibadah antar umat beragama dan tidak mengganggu ritual keagamaan tertentu bahkan terkadang menjaga dan melindungi perayaan ibadah agama lain.

2. Menjalin Persaudaraan Antar Umat Beragama 

Meskipun menganut agama yang berbeda, kita tetaplah manusia yang memiliki hubungan antar umat beragama sebagai bentuk hubungan kita sebagai warga negara satu tanah air dan bangsa. Maka kita harus mengesampingkan perbedaan tersebut untuk menjalin kebersamaan dan ikatan sosial sebagai manusia dengan cara saling menebar kasih sayang dancinta, saling bertegur sapa dan menebar senyum hangat, bahkan apabila ada umat agama tertentu yang membutuhkan bantuan baik finansial/ekonomi maupun tenaga, maka kita harus membantu mereka karena dengan perilaku tersebut dapat mempererat hubungan sosial kemasyarakatan antar umat beragama serta dapat meminimalisir kesenjangan sosial dan bahkan mampu meningkatkan kesejahteraan saudara kita antar umat beragama.

Itulah manusia Indonesia yang sesungguhnya, manusia beragama yang peduli terhadap sesama tanpa memandang perbedaan. Itulah manusia Indonesia yang mampu menerapkan nilai-nilai luhur ajaran agama dan bangsanya, sesuai dengan pilar kebangsaan kita yaitu Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Sebagai mahasiswa yang memiliki intelektualitas tinggi, sudah sepatutnya kita merawat dan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.


3. CERPEN

Toleransi dalam Perayaan Idul Adha

Oleh : Oktavia Adeliya Putri

Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar.. La ilaha illallah huwallahu Akbar, Allahuakbar walillahilhamd. 

Lantunan takbir dikumandangkan, menandakan hari kemenangan telah tiba. Terlirik dari kejauhan banyak orang yang berbondong-bondong menuju masjid untuk melaksanakan sholat Idul Adha. Mereka terlihat sangat rapi, dan menampilkan fisik dan jiwa terbaik di hadapan Sang Illahi. 

Tak terkecuali aku, keluargaku dan teman-teman ku berbondong-bondong menuju masjid dengan mengenakan mukena yang kemarin baru saja aku beli dari pasar. Hati yang sangat gembira melihat suasana seperti ini, melihat orang-orang tersenyum lepas. 

Setelah sholat Idul Adha, aku, Dina dan Dini sarapan di pelataran masjid bersama jama'ah lainnya. Karena sunnah di hari raya Idul Adha adalah tidak boleh makan atau minum sebelum dilaksanakanya sholat Idul Adha. Tidak sengaja aku melihat Michel juga berada di pelataran masjid. 

“Michel ayo kita sarapan bersama! “ . Ujar Dini dengan penuh kegembiraan 

“Aku kan beragama Kristen, apakah boleh ikut bersama kalian untuk sarapan bersama dan menyaksikan penyembelihan hewan Qurban? “. Jawab si Michel 

“Tentu saja boleh, sini.. Jangan sungkan untuk gabung bersama kita”. Kata Dina 

Akhirnya aku, Dina, Dini dan Michel sarapan bersama dan bercengkrama dengan penuh kegembiraan.

Setelah sarapan bersama kita melihat binatang qurban, tak jauh dari masjid banyak sapi dan kambing yang siap untuk disembelih sebagai hewan qurban. Aku melihat Marchel yang berada di dekat lokasi, rumahnya tepat disebalah masjid. Marchel bukanlah seorang muslim, sama dengan Michel yang menganut agama Kristen. 

Aku, Dina, Dini dan Michel bergegas menghampiri Marchel. Olalallalala, bahkan Marchel pun berada di sini.. 

“Hei, Marchel kamu juga mau menyaksikan penyembelihan hewan qurban?” 

“Iya nihh, aku juga ingin menyaksikan penyembelihan sekaligus ingin membantu panitia qurban, itulah kenapa aku datang lebih awal”. Jawab si Michel dengan penuh semangat 

Baikalah ayo teman-teman kita menyaksikan pembelian hewan qurban sekaligus kita dapat membantu panitia qurban sesuai dengan kemampuan kita.

Tak sengaja aku pun melihat ibu Michel dan Marchel juga ikut andil dalam perayaan ini. Ibuibu yang sibuk mempersiapkan bahan untuk memasak daging qurban. Biasanya dalam perayaan Idul Adha ini ada sebagian daging yang dimasak untuk dimakan bersama setelah penyembelihan dan ada sebagian yang dibagikan. Untuk menu masakannya ada tengkleng dan gulai. Aku, Dina dan Dini ikut membantu memasak masakan tengkleng dan gulai tersebut, sedangkan Michel dan Marchel ikut membantu dalam penyembelihan hewan qurban seperti pemotongan daging, membersihkan jeroan dan lain sebagainya.

Sebut saja Bu Natasya, beliau adalah ibu Marchel yang sangat cekatan, pintar memasak dan selalu membantu memasak dalam perayaan Idul Adha ini. Tanpa Pernah absen beliau selalu semangat dan siap sedia kekita dimintai bantuan. 

“Bu Aku, Dina dan Dini harus membantu apa?” 

“Nak, kalian mengelap piring saja, nanti kalau sudah selesai bantuin ibu motong daging, misahin antara lemak dan dagingnya ya..” Jawab Bu Natasya dengan penuh kasih sayang 

Aku pun menjawab dengan kegembiraan “Baiklah Bu, akan kami kerjakan”. 

Aku, Dina dan Dini bergegas untuk mengelap piring sambil bercanda gurau dan melihat melihat ibu-ibu dan bapak-bapak yang rukun, kompak dan kerjasama yang baik dalam perayaan Idul Adha ini, walaupun terdapat beberapa perbedaan yang ada, baik perbedaan latar belakang, sosial bahkan perbedaan agama. 

Michel dan Marchel pun terlihat sangat gembira dan sangat menikmati keadaan seperti ini. 

Setelah semua tulang, daging sudah terbagi dan masakan pun juga sudah matang. Akhirnya kami makan siang bersama dengan masakan yang sudah dimasak ibu-ibu tadi. Rasa lelah dan capek yang dirasakan sudah terbayar dengan masakan yang sangat enak. Kami pun bersama-sama menikmati masakannya. Sehabis makan bersama, ibu-ibu berjejer rapi untuk mencuci piring dan peralatan yang digunakan untuk memasak tadi, sedangkan yang laki-laki akan membagikan daging kepada warga setempat. 

“Daging-gading ini akan dibagikan kepada warga, umat islam suka berbagi lewat hewan qurban ini”. Ujar Dini 

“Aku tahu, hewan qurban ini akan sangat bermanfaat bagi mereka. Apalagi bagi mereka yang kurang mampu. Jarang mereka makan daging. Harga daging kan mahal” balas Dina 

“Kau suka membantu membagikan daging ini pada warga?” , tanya si Michel kepada Marchel 

“Aku suka melihat orang lain tersenyum bahagia, itulah alasanku membantu panitia qurban”, ucap Marchel 

Hari ini aku, Dina, Dini, Michel dan Marchel ikut membagikan daging qurban pada warga. Michel dan Marchel memang berbeda agama dengan aku, Dina dan Dini. Tetapi kita saling bantu membantu. Agama yang berbeda justru membuat kita belajar saling menghargai. Belajar menghormati perbedaan dan saling menerima perbedaan, karena kita tahu bahwa perbedaan itu sangat indah.


4. PUISI

Membangun Kearifan Lokal dengan Toleransi Beragama

 Oleh : Apriani Muyasaroh Yasin

Indonesia bumi pertiwi 

Gemah ripah loh jinawi 

Bangsa satu tanah air suci 

Tak kenal perbedaan juga posisi

Suku ras bahasa dan agama 

Saling berdamping pula bersua 

Tak jadi penghalang menghalang menjadi saudara 

Mempertahankan kearifan lokal dan budaya

Indonesiaku nan suci 

Bersatu dalam balutan toleransi 

Menghormati dan menghargai 

Guyup rukun damai abadi

Keberagaman menjadi warna 

Bukan alasan mengapa berbeda 

Amanah menjaga keelokan budaya 

Demi mempertahankan negaraku Indonesia

Simfoni Indonesia Raya menjadi saksi 

Bahwa perbedaan tak dapat menghalangi 

Menjaga keutuhan bumi pertiwi 

Sampai akhir hayat hidupku ini

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama